Rabu, 16 Maret 2011

Upaya Belanda Mencegah Kanker Usus


Dalam 20 tahun belakangan, di Belanda, jumlah pasien pengidap kanker usus besar naik dua kali lipat. Tahun 1989 sekitar 700 pasien didiagnosa mengidap kanker usus besar. Kini jumlah itu meningkat mencapai sekitar 1600 orang per tahun.

Walau jumlah pasien kanker usus besar meningkat tajam, Belanda telah berbuat banyak dalam mencegah kanker ini. Misalnya melakukan pemeriksaan preventif masyarakat. Kendati demikian pemeriksaan masih dalam tahap ujicoba.

50 tahun ke atas
Kalau kemudian ditemukan jumlah orang terkena kanker usus besar berkurang, dan jumlah orang meninggal dunia akibat penyakit tersebut turun, maka akan dilakukan pemeriksaan terhadap kelompok masyarakat berusia 50 tahun ke atas.

Baru tahun-tahun belakangan pencegahan penyakit menjadi perhatian besar Belanda. Sebelumnya penyakit tidak begitu dikenal, walaupun sering sekali terjadi, kata Dr. Kuipers dari Erasmus Medisch Centrum di Rotterdam.
Sekitar lima persen orang Belanda akhirnya mengidap kanker usus besar. Menurut Dr. Kuipers itu banyak sekali. Sekitar 50% orang yang didiagnose penyakit itu, kemungkinan meninggal dunia.
Polip kanker
Di Belanda sekitar 12.000 orang per tahun didiagnosa mengidap kanker usus besar. Jumlah lebih besar lagi didiagnosa menderita polip kanker. Sebagian polip tersebut bisa berkembang menjadi kanker.

Dalam tahap awal, penyakit tersebut sangat mudah dirawat. Bisa melalui pemeriksaan endoskopi saluran pencernaan, di mana tumor bisa diambil. Tapi juga tahap awal kanker sendiri mudah dirawat. Itu bisa dilakukan melalui pemeriksaan endoskopi atau operasi.
Tapi ketika penyakit berkembang lanjut, kemungkinan perawatan dan kemungkinan pasien sembuh cepat berkurang. Keluhan sakit perut, buang air besar secara tidak teratur dan kramp perut. 30 sampai 40% masyarakat Belanda pasti pernah mengalaminya.
Perubahan
Tapi yang perlu diperhatikan adalah jika ada perdarahan sewaktu buang air besar atau jika terlihat suatu perubahan dalam buang air besar. Misalnya orang yang biasanya buang air besar sehari sekali, kini malah harus lebih sering ke kamar kecil.
 
Atau justru sebaliknya, yakni buang air besar berkurang. Sementara itu ia juga merasa nyeri di perut. Jika begitu, segera datangi dokter anda, anjur Dr. Kuipers.

Diet
Bagi pengidap penyakit kanker usus besar sangat penting mengikuti diet. Diet khusus bisa membantu memperbaiki atau memelihara kondisi tubuh sehingga anda lebih cepat sembuh setelah menjalani perawatan. Selain itu juga bisa mengurangi beberapa keluhan yang anda alami.

Program diet seperti apa bisa diikuti pasien pengidap kanker usus besar? 
“Pertama, untuk semua penyakit kanker, itu kita sesuaikan dengan bentuk makanan ke pasiennya," ujar Juliana, ahli gizi dari rumah sakit Emanuel, Bandung. 
Kemudian setelah didiagnosa mengidap kanker usus besar, si pasien biasanya diberi makanan cair. Jadi yang diterapkan di sini adalah program diet gizi seimbang. Diet gizi seimbang terdiri dari makanan yang ada karbohidratnya, ada protein hewani dan ada protein nabati.
Makanan itu harus lembut agar tidak mengganggu usus, karena usus pengidap kanker usus besar tidak bisa bekerja secara optimal.
Cair-padat
Kalau kondisi pasien sudah makin membaik, dia perlahan-lahan diberikan makanan berbentuk lebih padat. Tapi itu tergantung dari kondisi pasien itu juga, ujar Juliana.

“Kalau misalnya dia makanannya bisa ke bentuk yang lebih padat, nggak apa-apa, nggak masalah. Kalau misalnya pasiennya sama sekali nggak mau makan, kita mau nggak mau berikan dalam bentuk makanan cair dulu.”
Itu untuk menjaga agar fesesnya lembut dan juga untuk menjaga kondisi usus itu sendiri. Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi resiko terjadinya kanker usus besar? Diet seperti apa yang bisa diikuti pasien?
“Kita menganjurkan diet yang harus diikuti adalah diet gizi seimbang. Gizi seimbang ini komposisinya ada karbohidratnya, ada protein hewaninya, ada protein nabati, ada sayuran. Lalu ada lagi masukan vitamin dan mineral lainnya.”
Beras dan umbi-umbian
Itu bisa ditemukan dalam hampir semua makanan. Kalau karbohidrat misalnya bisa ditemukan dalam beras, tepung-tepungan dan umbi-umbian. Protein hewani antara lain bisa ditemukan dalam daging, ayam dan ikan.

Namun ada juga makanan yang sebaiknya dihindari, misalnya makanan peti kemas, yang instan. Contohnya seperti indomie dan makanan kaleng. "Soalnya di situ kan banyak sekali menggunakan bahan pengawet,” ujar Juliana, ahli gizi dari rumah sakit Emanuel, Bandung.
sumber: maag lever darmstichting www.mlds.nl

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar