Senin, 04 Juli 2011

CUKUP TIDUR TAPI TIDAK BUGAR


Dr.Andreas Prasadja, RPSGT
Diterbitkan dimajalah NAKITA No.562/TH.XI/4-10 Januari 2010.
Saat bangun pagi, apakah Anda selalu merasa tidak bugar dan malas – malasan padahal sudah merasa tidur cukup? Jika ya, bisa jadi Anda terserang hipersomnia!.

Hipersomnia adalah kebalikan dari insomnia. Sayangnya, sebagai gangguan tidur yang sering ditemui, hipersomnia sering diabaikan. Hipersomnia bisa diartikan sebagai kantuk berlebih. Hipersomnia lebih populer dengan sebuta excessive daytime sleepines (EDS). Penderitanya merasa mengantuk pada waktu yang tidak semestinya, semisal dalam perjalanan ketempat kerja dipagi hari. Sedemikian mengantuknya sampai – sampai ia bisa tertidur bukan pada tempatnya, semisal dibus, dimeja kerja, atau ketika tengah mendengarkan presentasi dipagi hari.

EDS disebabkan oleh buruknya kualitas tidur akibat gangguan tidur yang diderita, diantaranya sindroma tungkai gelisah (tangan atau kaki bergerak – gerak tanpa sadar selama tidur) dan sleep apnea (napas terhenti saat tidur). Ciri lain pada penderita hipersomnia adalah sleep on set, yakni proses awal dari berbaring sampai jatuh tidur yang berlangsung amat cepat.

Pada orang normal, tahap sleep on set berlangsung selama 10-20 menit, sementara pada penderita hipersomnia hanya butuh waktu sekitar 5 menit. Seseorang yang bisa langsung tertidur dimanapun hanya dalam tenggang waktu 5 menit atau kurang dari itu patut dicurigai kalau –kalau ia sebenarnya kurang tidur karena hari – hari sebelumnya terpaksa begadang hingga tubuhnya lantas merasa perlu ”balas dendam’ untuk tidur. Supaya set on sleep berlangsung normal, mau tidak mau harus dievaluasi dulu apa penyebabnya. Kemudian ditata kembali pola tidurnya dan dicukupi dulu kebutuhan tidurnya. Tercukupi disini bukan hanya dari kuantitasnya, tapi juga kualitasnya.

GEJALA PENYAKIT SERIUS

Pada dasarnya hipersomnia hanyalah gejala dan bukan penyakit. Gangguan yang paling sering ditandai dengan gejala hipersomnia, diantaranya sleep apnea (dalam bahasa awam dikenal dengan ngorok) dan sindrom tungkai gelisah. Mereka yang tidurnya ngorok sebetulnya mengalami henti napas akibat adanya penyumbatan dijalan pernapasan. Kebutuhan oksigen yang tidak mencukupi inilah yang membuat tidurnya gelisah, tak nyenyak, dan akhirnya tak bugar saat bangun dipagi hari.

Hipersomnia temporer atau sementara bisa terjadi pada seseorang yang sehat namun selama beberapa hari mengalami kurang tidur ataupun kelelahan fisik yang luar biasa. Sedangkan hipersomnia yang berlangsung lebih dari beberapa hari patut dicurigai sebagi gejala adanya penyakit serius, seperti kelainan otak, hipertensi, diabtes, stroke, serangan jantung dan risiko kematian mendadak kala memasuki periode tidur paling dalam (sekitar pukul 2 – 3 dini hari). Bisa juga sebagai gejala adanya kelainan psikis, yaitu depresi, kecemasan berlebih, maupun pemakaian obat tidur yang berlebihan.

7 Solusi Hipersomnia
  1. Jalani pemeriksaan polisomnografi yang tersedia dilaboratorium tidur. Lewat pemeriksaan ini, kualitas tidur bisa terbaca secara akurat hingga penanganannya jadi efektif yang didapat untuk tidur hanya 30 menit! Jadi, mata memang terpejam, tetapi tubuh dan otak tetap aktif sepanjang malam.
  2. jalani ritual sebelum tidur guna mencapai tingkat relaksasi.Antara lain dengan membaca bacaan ringan ditemani secangkir minuman hangat (bukan kopi atau minuman bersoda yang merangsang orang tetap terjaga), melakukan ritual ibadah, meditasi, yoga atau perawatan aromaterapi.
  3. Biasakan berperilaku tidur sehat dengan mengatur waktu tidur yang benar, yakni mengusahakan berangkat dan bangun tidur pada jam – jam tertentu setiap hari. Pola tidur yang baik pasti memberikan kualitas tidur yang baik pula.
  4. Cukupi kebutuhan kuantitas tidur dengan memerhaikan jam biologis. Membiasakan diri beraktivitas melawan jam biologis jelas merupakan gaya hidup yang salah yang hanya akan berujung pada penumpukan ”utang” jam tidur.”Utang” jam tidur hanya bisa ditoleransi untuk aktivitas – aktivitas yang urgent, misalnya terpaksa begadang karena anak sakit. Kalau ada ”utang” jam tidur, sesegera mungkin lunasi dalam minggu berjalan agar tidak bertumpuk.
  5. Biasakan berpikir positif. Berpikir keras atau membiarkan pikiran negatif berkecampuk menjelang tidur terbukti sangat membebani tubuh secara keseluruhan. Tanggalkan segala pikiran negatif menjelang tidur dengan keyakinan bahwa tidur berkualitas akan menyegarkan tubuh dan pikiran. Kebugaran jiwa dan raga sangat membantu kemampuan berkonsentrasi untuk mencari pemecahan masalah.
  6. Rutin melakukan olahraga ringan. Lakukan jalan kaki atau berlari – lari kecil dipagi hari, peregangan otot, atau senam aerobik yang terbukti mampu memperbaiki kualitas tidur. Olahraga teratur melancarkan aliran darah sehingga tak mudah terjaga dimalam hari agar dapat tidur lebih dalam.
  7. Selama tidur sebaiknya lampu dimatikan. Lingkungan tidur yang gelap bermanfaat meningkatkan kualitas tidur. Asal tahu saja, hormon yang membantu proses tidur hanya diproduksi sewaktu tubuh dilingkupi suasana gelap.

Kopi dan minuman sejenis amat tidak disarankan karena sifatnya yang kontradikatif terhadap kantuk.”Pengobatan hipersomnia hanya efektif jika dilakukan dengan memperbaiki kualitas tidur dan mencukupi kuantitasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar