Senin, 04 Juli 2011

TIDUR YANG SEHAT AGAR ANAK CERDAS

Tidur anak seringkali menjadi masalah pelik bagi para orang tua. Sudah menjadi suatu kebiasaan manusia modern untuk membatasi jumlah tidur anak demi terus beraktivitas. Kebiasaan ini juga tampak pada pelajar kita yang terus belajar hingga larut, bahkan tak jarang yang hingga pagi tanpa tidur. Tetapi berbagai penelitian satu dekade belakangan justru menunjukkan bahwa tidur sebenarnya bermanfaat bagi prestasi akademis seorang siswa.
Baru-baru ini, sekelompok ahli mengungkapkan manfaat tidur bagi kemampuan menghapal. Dalam penelitian mereka yang dituangkan dalam the Journal of Neuroscience, dua kelompok pemuda diberikan tugas menghapal yang sama.
Kelompok pertama belajar beberapa kata baru di malam hari, lalu tidur dalam pengawasan di laboratorium tidur. Setelah melewati malam dengan direkam menggunakan polisomnografi (pemeriksaan tidur), mereka diberikan ujian. Sementara kelompok kedua, diberikan bahan hapalan di pagi hari. Di siang hari mereka tidak diijinkan tidur, lalu sore harinya mereka diuji.
Hasilnya kelompok yang diberi kesempatan tidur, dapat menghapal lebih banyak kata dibanding kelompok yang tidak tidur. Dari perekaman polisomnografi, para ahli menduga bahwa proses re-organisasi memori tersebut terjadi pada saat munculnya gelombang simpul tidur (sleep spindle).
Tidur anak yang di riset secara mendalam ini akhirnya menghasilkan suatu kesimpulan. Ini sejalan dengan hasil penelitian yang telah terlebih dahulu dipublikasikan di Current Biology April 2010, dimana para peneliti menemukan bahwa tidur setelah proses belajar akan meningkatkan kemampuan ingatan. Dihipotesakan bahwa proses konsolidasi memori, terjadi saat ingatan yang baru terbentuk diaktifkan kembali dalam tidur. Proses re-aktifasi ini tercermin dalam tidur mimpi. Proses ini tidak akan tampak saat kita terjaga, ia hanya terjadi dalam tidur sehingga disebut sebagai sleep-dependent memory consolidation.
Kini jelas bahwa kebiasaan belajar semalaman malah akan merugikan. Proses belajar dan menghapal amat bergantung pada proses konsolidasi memori yang hanya terjadi jika kita tidur. Belum lagi efek kurang tidur yang menyebabkan otak bekerja lamban dan sulit mencerna berbagai pertanyaan dalam ujian.
Tidur anak juga harus dijaga tetap berkualitas. Kita juga perlu mewaspadai gangguan-gangguan tidur yang menyebabkan tidur tak berkualitas. Akibatnya proses konsolidasi memori pada saat tidur juga terganggu. Salah satu contoh yang paling sering dijumpai adalah sleep apnea, dimana penderitanya mendengkur dan selalu mengantuk. Proses gangguan nafas selama tidur menyebabkan otak terbangun-bangun (tanpa terjaga) dalam tidur. Akibatnya walau anak sudah tidur cukup, ia selalu merasa mengantuk dan kurang tidur. Hanya saja pada anak yang masih kecil, manifestasi rasa kantuk malah uncul sebagai hiperaktivitas.
Dr. Andreas Prasadja, RPSGTDokter Spesialis Gangguan Tidur
Rumah Sakit Mitra Kemayoran

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar