Senin, 04 Juli 2011

MENGIGAU TANDA BANYAK UTANG TIDUR


Dr. Andreas Prasadja, RPSGT
RS Mitra Kemayoran
Disadur dari tabloid Gaya Hidup Sehat Tahun XII No.2/ 8-14 April 2011
Mengigau saat tidur pada anak tidaklah berbahaya. Pun tidak mengganggu tidur. Hanya saja, mengigau bisa menjadi tanda dari gangguan tidur yang lain yang menyebabkan kantuk berlebihan.

Anak yang suka mengigau saat tidur malam seringkali dianggap wajar. Sejumlah alasan pun muncul, misalnya karena terlalu asyik bermain di siang hari, kecapean, dan lain sebagainya.

Memang sih, mengigau tidak mengganggu tidur anak. Namun, kalau dibiarkan berlanjut, bukan tidak mungkin bakal menjadi masalah lain.

Mengigau bisa menjadi tanda gangguan tidur lain yang menyebabkan kantuk berlebih,“tutur Dr Andreas Prasadja, RPSGT.

Mengigau, atau somniloquy, merupakan vokalisasi tidak normal yang terjadi saat tidur. Mengigau, menurut penjelasan dokter ahli tidur dari klinik gangguan tidur RS Mitra Kemayoran ini, masuk dalam satu kelompok gangguan tidur yang disebut sebagai parasomnia, bersama dengan berjalan saa tidur, night terrors, gangguan perilaku REM, dan yang lainnya.

Bangun Singkat
Berlawanan dengan pemandangan awam, menurut Dr. Andreas, mengigau tidak berkaitan dengan mimpi. „Mengigau terjadi pada tahap tiudr mimpi,“ katanya.

Penyebab sampai sekarang tidak diketahui, meski dijumpai juga karena faktor keturunan. Kasusnya pun banyak terjadi pada anak – anak, yang akan hilang dengan sendirinya saat usia bertambah, meski dapat muncul kembali saat remaja maupun di usia dewasa.

Mengigau terjadi saat anak mengalami bangun singkat saat tidur. Dalam perekaman polisomnografi, didapat bahwa ketika bangun singkat, sejenak ia akan berbicara atau menggumamkan sesuatu.

Kondisi ini bisa terjadi ketika posisi tidur anak berubah atau akibat gangguan tidur lain. Jadi, bangun singkatlah yang akan memicu igauan dan bukan sebaliknya.

Buka akibat mengigau lalu gelombang otak tidur terganggu atau mengalami bangun singkat,“imbuh Dr. Andreas.

Harus Cukup Tidur
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, mengigau terjadi pada tahap tidur dalam. Tahap tidur dalam biasanya terjadi pada 2 jam awal tidur, saat utang tidur masih menumpuk tinggi, sehingga mengigau sering terjadi dalam rentang dua jam awal tidur.

Anak yang memiliki bakat akan mengigau ketika beban utang tidurnya banyak. Namun, jika utang tidurnya minimal, episode igauan juga akan minim atau bahkan tidak ada. Karena itu, penanganan somniloquy diarahkan pada kecukupan tidur.
Medikasi tidak diperlukan,“kata Dr Andreas.

Amati Tidurnya
Utang tidur bisa disebabkan oleh kurannya jam tidur atau buruknya kualitas tidur. Kalau hanya jam tidur saja yang kurang, tidak terlalu sulit untuk mengatasinya. Tinggal ditambah saja. Yang perlu diwaspadai bila anak mengalami kualitas tidur yang buruk akibat gangguan tidur.

Gangguan tidur yang paling sering dialami adalah sleep apnea (henti napas saat tidur) dan mendengkur. Saat terjadi henti napas saat tidur, anak kerap terbangun secara singkay, tanpa terjaga, sehingga kualitas tidurnya buruk.

Nah, pada anak yang mengigau dan mendengkur, episode mengigaunya menjadi lebih sering dan intens. Pada anak – anak ini, meski waktu tidurnya sudah dicukupi, masih tetap mengigau. Karena itu, orang tua harus waspada terhadap tidur anak.

Tanda yang harus diwaspadai adalah meski anak sudah tidur cukup, ia masih terus mengantuk sepanjang hari. Sayangnya, ketika mengantuk, bukannya lemas, anak malah justru menjadi hiperaktif. Mereka juga mengalami gangguan konsentrasi.

BISA Disertai Sleepwalking
Anak yang mengigau perlu mendapat perhatian. Terlebih, ada kalanya mereka mengigau dibareng berjalan dalam tidur. Jika hal itu terjadi, orang tua harus menjaga keamanan anak. Jangan sampai mereka melukai dirinya sendiri.

Mengigau saat tidur sering dijumpai pada anak – anak. Kondisi ini memang bisa hilang sejalan dengan bertambahnya usia, meski bisa muncul kembali diusia remaja.

Mengigau yang muncul kembali pada remaja – dewasa muda harus mendapat perhatian. Apa sebabnya? Menurut Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, hal ini dikarenakan pada usia tersebut, manusia modern paling rentan mengalami kekurangan waktu tidur.

Mereka memiliki jam biologis yang khas dengan kebutuhan tidur mencapai 8,5 – 9,25 jam perhari, tapi baru tidur lewat tengah malam,”katanya.

Tak heran, banyak remaja yang aktif berkarya ketika jarum jam menunjukan pukul 22.00.

Sekolah Lebih Pagi
Sayangnya, mereka yang masih sekolah menengah harus mulai belajar seperti orang dewasa kebanyakan. Bahkan, di Jakarta, waktu masuk sekolah menjadi lebih pagi lagi, yaitu pukul 06.30. Jadi, ketika remaja mulai mengigau lagi, pastikan terlebih dulu kecukupan tidurnya. Jangan sampai waktu tidur mereka kurang.

Tidur tidak cukup ditambah harus mengendarai motor ataupun mobil kesekolah, akan membahayakan keselamatan mereka. Bisa saja mereka mengendarai motor atau mobil sambil terkantuk – kantuk. Ini sama bahayanya dengan mengendarai kendaraan bermotor ketika sedang mabuk.

Peringatan juga harus diberikan pada mereka yang berbakat sleepwalking (somnambulism) atau berjalan sambil tidur. Sebab bisa saja, mereka berjalan dalam tidur, mengambil kunci motor, dan ngebut tanpa disadari. Saat terbangun ia berada di ICU karena koma selama beberapa hari setelah tabrakan. Ini yang tergolong berbahaya.




Setelah tidur 1-2 jam
Sleepwalking bentuknya bervariasi. Dari yang tidak berbahaya (seperti hanya duduk), hingga ke potensi yang membahayakan seperti berjalan keluar ruangan, atau malah melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya seperti pipis didalam lemari pakaian. Apa pun yang dilakukan anak selama episode sleepwalking ini mereka tidak mengingatnya.

Seperti disebutkan dalam situs kidshealth, sleepwalking kebanyakan terjadi saat tidur lebih dalam ditahap 3 – 4. Anak cenderung mengalami sleepwalking setelah 1- 2 jam tidur. Mereka bisa berjalan ke mana saja dari rentang waktu beberapa detik hingga 30 menit.

Karena berada di tahap tidur dalam, akan lebih sulit membangunkan mereka. Saat dibangunkan pun, mereka akan merasakan pusing dan mengalami disorientasi selama beberapa menit.

Cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk menghindari risiko cedera adalah dengan sejumlah pengamanan dikamar dan rumah.

Amankah Anak
Meski tidak berbahaya, penting untuk menjaga agar anak tidak terjatuh atau berjalan keluar pintu atau bahkan menyetir. Caranya.
  1. Mencoba untuk tidak membangunkan karena hal ini malah bisa mengagetkan atau menakutkan bagi anak. Sebaliknya, secara perlahan, antarkan anak kembali ke tempat tidurnya.
  2. Kunci jendela dan pintu diseluruh rumah termasuk di kamar anak. Kunci kamar sebaiknya jauh dari jangkauan, terutama bagi anak yang sudah bisa menyetir.
  3. Untuk mencegah anak terjatuh, pastikan anak tidak tidur ditempat tidur tingkat.
  4. Buang benda tajam dan mudah pecah di sekeliling tempat tidur anak.
  5. Jauhkan objek berbahaya dari jangkauan anak
  6. Keluarkan benda – benda di kamar anak dan seluruh ruang yang bisa membuat mereka tersandung.
  7. Pasang pintu pengaman di luar kamar anak dan atau dibagian tangga paling atas.

Karena Kurang Tidur
Banyak faktor yang membuat anak mengalami sleepwalking, diantaranya:
  • Ada kemungkinan karena faktor keturunan bila Anda atau pasangan pernah mengalami Sleepwalking karena anak berkemungkinan memiliki perilaku serupa.
  • Kurang tidur atau kelelahan
  • Jadwal tidur yang tidak beraturan.
  • Sakit atau demam
  • Pengobatan tertentu
  • Stress

Teriak Histeris Bukan Karena Mistis
Bukan hanya mengigau atau berjalan saat tidur yang dapat menimbulkan kekhawatiran orang tua. Ada kalanya anak menjerit histeris saat tidur, sehingga membuat orang tua panik.

Menurut Dr. Andreas, kalau tiba – tiba balita terduduk dalam tidur, kemudian ia membuka mata dan menjerit-jerit menangis histeris, jangan dianggap sebagai hal yang terkait mistis. Apalagi, yang khas, anak seolah tak merespon pelukan orang tua yang mencoba untuk menenangkan. Alih – alih menjadi tenang, amukan anak malah menjadi – jadi.

Ini bukan mimpi. Night Terrors itu mirip dengan somniloquy atau mengigau, “kata Dr. Andreas. Kondisi ini terjadi pada tahap tidur dalam. Penanganan hal ini hampir mirip dengan mengigau, yaitu dengan persiapan tidur yang baik, cukupi kebutuhan tidur dan jaga agar anak tak menyakiti diri.

Awasi saja, karena setelah beberapa menit yang “mengerikan” itu anak akan diam dan kembali tidur dengan damai. Night Terorrs juga akan hilang dengan sendirinya. Pun tak berbahaya atau mengganggu proses tidur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar